Sastra

"Aku Bisa Kan Pak?"

T Triglobs Admin 12 May 2026 21 kali dilihat

Langit sore waktu itu berwarna jingga pucat.

Aku duduk di belakang rumah bersama bapak, memandangi sawah yang mulai menguning. Angin berhembus pelan membawa bau tanah basah dan suara jangkrik yang mulai bersahutan.

Bapak tidak banyak bicara hari itu.


Tangannya sibuk memperbaiki sandal kerja yang talinya hampir putus. Sandal yang selalu dipakai ke kebun sejak aku masih kecil.

Aku memperhatikannya diam-diam.

Kerutan di wajah bapak semakin jelas sekarang. Rambutnya juga mulai dipenuhi putih. Tapi seperti biasa, beliau tetap terlihat kuat. Seolah dunia tidak pernah benar-benar berhasil membuatnya lelah.

Padahal aku tahu itu tidak benar.


“Bapak capek yaa?” tanyaku pelan.

Bapak tersenyum kecil.

“Laki-laki enggak boleh terlalu sering bilang capek.”

Aku tertawa hambar.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa membuat dadaku sesak.

Sejak ibu sakit setahun terakhir, bapak berubah jadi lebih pendiam. Beliau mengambil lebih banyak pekerjaan. Pagi ke kebun, sore membantu tetangga memperbaiki atap, malam masih sempat mengantar pesanan kayu ke kecamatan sebelah.


Kadang aku heran, dari mana bapak mendapatkan tenaga sebanyak itu.

Sementara aku? Aku masih sibuk merasa gagal. Sudah berkali-kali melamar pekerjaan dan ditolak. Tabungan makin tipis. Teman-teman mulai punya hidup masing-masing, sementara aku masih berjalan di tempat.


Aku menunduk, memainkan ujung baju sendiri.

“Bapaak…”

“Hm?”

Kalimat itu tertahan beberapa detik di tenggorokan.

“Aku… bisa kan, Pak?”

Bapak berhenti memperbaiki sandal.

Beliau menoleh perlahan ke arahku.

“Maksudmu?”

“Aku takut gagal terus.”

Suaraku mengecil.

“Takut enggak bisa bahagiain bapak sama ibu. Takut ternyata aku memang enggak sebaik itu.”

Hening.


Hanya suara angin dan daun-daun pisang yang bergerak pelan.

Bapak kemudian menarik napas panjang, lalu menepuk pundakku pelan.

“Kamu tahu kenapa bapak tetap kerja sampai malam?”

Aku menggeleng.

“Karena bapak percaya besok masih ada harapan.”

Aku diam.

“Dulu waktu kamu kecil dan belajar jalan, kamu sering jatuh.” Bapak tersenyum kecil. “Tapi bapak enggak pernah mikir kamu enggak akan bisa jalan. Tinggal tunggu waktunya aja.”

Dadaku tiba-tiba hangat.

“Tapi kalau aku gagal lagi gimana, Pak?”

Bapak tertawa kecil.

“Ya bangun lagi.”

“Sederhana banget jawabannya.”

“Memang hidup kadang sesederhana itu.”

Beliau menatap sawah di depan rumah.

“Yang bikin berat biasanya pikiran kita sendiri.”

Aku menunduk.

Air mataku hampir jatuh, tapi kutahan mati-matian.


Bapak mungkin tidak pandai merangkai kata. Tidak pernah memberi pidato panjang tentang kehidupan. Tapi dari beliau aku belajar, cinta kadang hadir lewat hal-hal sederhana : lewat tangan kasar yang tetap bekerja demi keluarga, lewat punggung yang terus kuat menahan lelah, dan lewat keyakinan kecil bahwa anaknya akan baik-baik saja.


Matahari mulai tenggelam.

Bapak berdiri sambil memakai sandal lamanya yang akhirnya selesai diperbaiki. Sebelum masuk rumah, beliau menoleh sebentar padaku.


“Kamu bisa, Nak.”

Senyumnya tipis, tapi hangat.

“Jangan kalah sebelum mencoba lebih lama.”

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian waktu, aku mulai percaya pada diriku sendiri., ~lagi.

Bagikan: WhatsApp