Sastra

Meski Terbiasa, Tapi Aku Tetap Rindu, Buu..

T Triglobs Admin 11 May 2026 22 kali dilihat

Rumah itu masih sama.

Pintu kayunya masih berbunyi pelan setiap kali dibuka. Jam dinding di ruang tengah masih berdetak lambat seperti dulu. Bahkan aroma minyak kayu putih di kamar pun masih tertinggal samar, seolah waktu menolak pergi terlalu jauh.

Hanya satu yang berbeda, Ibu sudah tidak ada di rumah itu.

Awalnya, aku pikir kehilangan akan terasa seperti hujan besar: datang deras, lalu reda perlahan. Tapi ternyata tidak begitu. Kehilangan lebih mirip udara: tak terlihat, namun terasa di setiap tarikan napas.

Sudah tiga tahun sejak Ibu pergi. Dan anehnya, manusia memang bisa terbiasa pada apa pun. Aku mulai terbiasa makan tanpa mendengar suara ibu bertanya, “Nambah lagi, Nak?” Aku juga mulai terbiasa pulang tanpa ada yang membukakan pintu sambil tersenyum hangat.

Aku terbiasa melihat kursi kosong di meja makan. Terbiasa mendengar sunyi. Terbiasa menyimpan cerita sendiri. Tapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kubiasakan—rindu.

Malam itu hujan turun pelan. Aku duduk di teras sambil memegang secangkir teh hangat yang mulai dingin. Angin membawa aroma tanah basah, dan entah kenapa, tiba-tiba aku teringat ibu.

Dulu, ibu selalu suka hujan.

Katanya, hujan mengajarkan manusia cara jatuh tanpa membenci langit. Aku tertawa kecil mengingatnya. Kalimat ibu memang sering sederhana, tapi selalu tinggal lama di kepala.

Di atas meja, ponselku menyala. Banyak pesan pekerjaan yang belum kubalas. Deadline menumpuk. Dunia terus berjalan seperti biasa, seolah tidak peduli ada hati yang diam-diam masih berduka.

Aku menatap langit gelap.

“Bu, hari ini aku capek.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Pelan. Hampir seperti bisikan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadaku terasa sesak.

Aku sadar, selama ini aku terlalu sibuk terlihat kuat. Terlalu sibuk meyakinkan semua orang kalau aku baik-baik saja. Padahal ada bagian dalam diriku yang masih sering mencari ibu di banyak hal kecil.

Di masakan yang rasanya tidak pernah sama. Di nasihat yang kini hanya tinggal ingatan. Di doa-doa yang dulu selalu mengiringi langkahku diam-diam.

Orang-orang bilang waktu menyembuhkan. Kurasa tidak sepenuhnya benar.

Waktu hanya mengajarkan kita cara hidup berdampingan dengan kehilangan Dan aku sudah belajar cukup lama untuk itu.

Aku bisa tertawa lagi. Bisa bekerja seperti biasa. Bisa menjalani hari-hari tanpa menangis setiap malam.

Aku sudah terbiasa.

Tapi tetap saja… di beberapa malam yang terlalu sepi, aku masih ingin pulang dan memeluk ibu. Aku masih ingin mendengar suara lembut itu berkata,

“Hati-hati ya, Nak.”

Aku masih ingin menjadi anak kecil yang tidur tanpa takut dunia terasa berat.

Hujan semakin deras.

Aku menunduk pelan, lalu tersenyum kecil sambil mengusap mata.

“Meski sudah terbiasa… aku tetap rindu, Buu.”

Bagikan: WhatsApp