Sastra

Surat Cinta Terakhir

T Triglobs Admin 04 May 2026 29 kali dilihat
Surat Cinta Terakhir

Hujan turun perlahan sore itu. Tidak deras, namun cukup untuk membuat kaca jendela berembun dan jalanan tampak lebih sepi dari biasanya. Aku duduk di sudut kafe yang dulu sering kita datangi. Meja dekat jendela, dua kursi, dan secangkir kopi yang hampir dingin. Tidak ada yang berubah dari tempat ini, kecuali satu hal: kini aku duduk sendiri, tanpa hadirmu.

Dari dalam tas, aku mengeluarkan selembar kertas yang telah beberapa kali kusentuh, kutulis, lalu kuhapus. Surat yang tak pernah benar-benar selesai. Sampai hari ini.

Pintu kafe berbunyi pelan.

Aku tidak langsung menoleh. Entah bagaimana, aku tahu itu dirimu. Ya, Raina. Kekasihku dulu

“Aku kira engkau tidak akan datang,” kataku pelan.

“Aku juga mengira engkau tidak akan mengajakku bertemu lagi,” jawab Raina, duduk di hadapanku.

Ada jeda di antara kita. Bukan karena tidak ada yang ingin diucapkan, melainkan terlalu banyak yang belum sempat diselesaikan.

“Engkau masih memilih tempat ini,” katanya sambil menatap sekeliling.

Aku tersenyum tipis. “Masih. Tempat ini… terasa biasa saja.”

Padahal, kita berdua tahu, tidak ada yang benar-benar biasa dari tempat ini.


Hujan masih turun di luar. Orang-orang berlalu lalang, sementara kita tetap diam dalam ruang yang seolah menahan waktu.

“Aku… membawa sesuatu untukmu,” ucapku akhirnya.

“Untukku?” Raina sedikit terkejut.

Aku menggeser kertas itu ke hadapanmu. “Sebuah surat. Mungkin terdengar sederhana, tapi… aku menulisnya cukup lama.”

Raina menerimanya, membuka lipatan demi lipatan dengan hati-hati, lalu mulai membaca.

---

Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Seperti kita yang dulu juga tidak pernah benar-benar tahu kapan mulai saling kehilangan. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku telah mencoba mengerti. Tentang mengapa kita berubah, mengapa jarak itu hadir, dan mengapa pada akhirnya kita memilih jalan masing-masing.

Pada awalnya, aku marah. Pada Raina, pada keadaan, bahkan pada diriku sendiri. Aku mengira, jika aku cukup bertahan, semuanya akan kembali seperti semula.

Namun ternyata, tidak semua yang kita jaga ditakdirkan untuk tetap tinggal

Aku masih mengingat hal-hal kecil tentang Raina—caranya diam saat banyak yang ingin ia pendam, cara ia tertawa pada hal-hal sederhana, dan bagaimana kehadirannya dahulu membuatku merasa cukup.

Dan justru hal-hal kecil itulah yang paling sulit kulepaskan. Kini aku mulai memahami, bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Terkadang, mencintai adalah tentang merelakan.

---

Raina berhenti membaca. Matanya terangkat, menatapku dengan sesuatu yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan.

“Engkau menulis ini… untukku?” tanya ia pelan.

Aku tersenyum. “Bukankah itu sudah jelas?”

Raina kembali membaca, lalu menutup surat itu perlahan.

“Aku mengira kamu masih menyimpan amarah,” katanya

“Aku pun mengira demikian,” jawabku. “Namun ternyata, lelah juga jika terus menggenggamnya.”

Raina menunduk sesaat. “Aku juga bersalah.”

Aku menggeleng pelan. “Kita hanya tidak tahu bagaimana cara bertahan saat itu.”

Keheningan kembali hadir, namun kali ini tidak terasa sesakit sebelumnya.

“Mengapa memberikannya sekarang?” tanya Raina.

Aku menarik napas sejenak. “Karena aku tidak ingin lagi menyimpan sesuatu yang seharusnya sudah selesai. Aku hanya ingin kita sama-sama tahu, bahwa apa yang pernah kita miliki itu nyata… dan cukup.”

Raina menatapku cukup lama, seolah mencari sesuatu yang tersisa.

“Dan sekarang?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum, kali ini lebih ringan. “Sekarang, aku belajar merasa cukup tanpa hadirmu.”

Tidak ada yang runtuh dari kalimat itu. Tidak ada pula yang terasa dipaksakan. Hanya kejujuran yang akhirnya menemukan tempatnya.

Raina mengangguk pelan. “Aku senang engkau menulis ini.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap hujan yang perlahan mulai reda.

Beberapa saat kemudian, kita berdiri hampir bersamaan.

“Aku harus pergi,” .

“Iya.” kataku.

Raina sempat terdiam, lalu berkata, “Terima kasih… untuk semuanya.”

Aku mengangguk. 

Raina berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak, lalu menoleh.

“Engkau akan baik-baik saja, bukan?”

Aku tersenyum. “Aku sudah mulai.”

Ia membalas senyum itu, lalu pergi.

Pintu tertutup perlahan.

Aku kembali duduk. Kursi di hadapanku kini kosong, namun tidak lagi terasa menyesakkan.

Ada sesuatu yang berubah. Bukan pada tempat ini, bukan pada hujan yang kini telah berhenti, melainkan pada diriku sendiri.

Aku meraih cangkir kopi yang telah dingin. Rasanya tidak lagi penting.

Yang penting adalah, aku akhirnya mengerti. Bahwa tidak semua yang pergi harus ditahan, dan tidak semua yang hilang berarti kehilangan.

Aku berdiri, melangkah keluar, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa perlu menoleh ke belakang.

Mungkin, ini memang surat cinta terakhir.

Dan kali ini, aku benar-benar telah selesai.

Bagikan: WhatsApp