Mengeja Cinta
Ada namamu
yang diam-diam tumbuh
di antara detik yang tak pernah sempat kuceritakan.
Aku mengejamu perlahan,
seperti anak kecil belajar membaca dunia
dengan hati yang belum sepenuhnya mengerti luka.
Huruf demi huruf,
aku menemukan hangat
pada cara sederhana kau menyapa pagi,
pada tawamu yang mampu
menenangkan ribut di kepala.
Cinta ternyata bukan tentang
siapa yang datang paling megah,
melainkan siapa yang tetap tinggal
meski dunia sedang lelah.
Aku pernah mencoba melupakanmu,
namun setiap hujan
selalu membawa kembali
suara langkahmu di ingatan.
Dan kini aku tahu,
mencintai adalah belajar menerima—
bahwa tidak semua rasa
harus memiliki akhir bahagia,
tetapi setiap rasa
tetap pantas dikenang dengan indah.
Jika suatu hari
namamu tak lagi kusebut dalam doa,
percayalah…
aku masih mengejanya diam-diam
di dalam
hati yang belum benar-benar selesai.