Jalan yang Tak Sama
Aku mengenalmu
seperti hujan mengenal tanah—
datang perlahan,
lalu menetap terlalu dalam.
Tidak ada yang salah
dari caramu tersenyum,
atau dari bagaimana semesta
mempertemukan kita
di waktu yang tak terduga.
Yang rumit hanyalah…
jalan yang kita percaya.
Aku menyebut nama Tuhan
dengan cara yang berbeda darimu.
Kau genggam tangan dengan doa-doamu,
aku bersujud dengan keyakinanku.
Namun anehnya,
hati tidak pernah belajar
tentang perbedaan itu
sebelum jatuh cinta.
Kita tetap berbicara tentang masa depan,
tentang rumah kecil,
tentang pagi yang ingin dijalani bersama,
meski diam-diam tahu
ada tembok yang sulit dilewati oleh rasa.
Dan malam-malam mulai berubah
menjadi kumpulan pertanyaan.
Apakah cinta cukup
untuk menyatukan dua keyakinan?
Apakah rindu mampu
mengalahkan restu yang tak datang?
Aku melihat matamu
menyimpan lelah yang sama.
Sebab mencintai dalam perbedaan
bukan hanya tentang bertahan,
tetapi juga tentang belajar
bahwa tidak semua yang indah
ditakdirkan untuk memiliki.
Kadang aku egois.
memintamu tetap tinggal
meski dunia tak merestui.
Namun cinta yang dewasa
tidak selalu memaksa seseorang menetap.
Kadang ia memilih melepaskan,
agar tidak ada hati lain yang terluka.
Dan jika suatu hari
kita benar-benar berjalan ke arah berbeda,
aku ingin kau tahu:
aku pernah mencintaimu
dengan cara paling tulus
yang mampu dimiliki seseorang.
Meski pada akhirnya
,
kita hanyalah dua doa
yang tidak diaminkan
di langit yang sama.