Sastra

Merayu Tuhan

T Triglobs Admin 13 May 2026 26 kali dilihat

Langit malam tampak muram sejak senja turun. Angin berembus pelan membawa aroma tanah yang lembap, sementara kota perlahan tenggelam dalam kesibukan yang tidak pernah benar-benar selesai. Di sudut kamar sederhana dengan lampu kekuningan yang redup, Raka duduk sendirian di lantai sambil memandangi langit-langit yang retaknya mulai terlihat jelas.


Jam di dinding berdetak pelan.

Satu per satu suara kendaraan di luar mulai menghilang, menyisakan sunyi yang terasa asing. Sunyi yang biasanya dicari manusia untuk beristirahat, tetapi malam itu justru terasa menyesakkan baginya.

Di dekat kakinya berserakan beberapa kertas: tagihan listrik, cicilan yang belum lunas, dan catatan kecil berisi daftar kebutuhan yang belum mampu ia penuhi. Semua tampak sederhana, tetapi bagi seseorang yang sedang kehilangan arah, benda-benda kecil itu bisa terasa seperti batu besar yang menindih dada.


Raka memejamkan mata.

Sudah lama sekali ia berpura-pura kuat.

Di hadapan teman-temannya ia tertawa seperti tidak terjadi apa-apa. Di depan keluarganya ia selalu berkata, “Aku baik-baik saja.” Padahal setiap malam ia tidur dengan kepala penuh kekhawatiran yang tidak pernah selesai.

Tentang pekerjaan yang semakin tidak menentu. Tentang impian yang terasa semakin jauh. Tentang dirinya sendiri yang perlahan berubah menjadi asing.


Ada masa ketika Raka begitu yakin hidup akan berjalan sesuai harapan. Ia pernah membayangkan masa depan dengan begitu indah—rumah kecil yang hangat, orang tua yang hidup tenang, dan dirinya yang berhasil menjadi seseorang yang dibanggakan.

Namun hidup ternyata tidak selalu tumbuh sesuai rencana manusia.

Beberapa kehilangan datang tanpa aba-aba.

Beberapa doa terasa menggantung terlalu lama di langit.

Dan beberapa harapan perlahan mati bukan karena gagal, melainkan karena terlalu sering dikecewakan.

Raka menunduk dalam diam. Tangannya saling menggenggam erat, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.


Lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berbicara kepada Tuhan bukan sebagai hamba yang menghafal doa, tetapi sebagai manusia yang kelelahan.

“Tuhan…” suaranya pecah pelan.

Ia berhenti beberapa detik. Tenggorokannya terasa sesak.

“Aku lelah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi begitu jujur.

Tidak ada bahasa indah. Tidak ada kata-kata yang terdengar suci. Hanya seorang manusia yang akhirnya menyerah pada air matanya sendiri.

“Aku sudah berusaha terlihat kuat di depan semua orang. Tapi sebenarnya aku takut… takut tidak bisa melewati semuanya.”


Matanya mulai basah.

Ia tertawa kecil di sela tangisnya sendiri.

Lucu sekali, pikirnya. Selama ini ia selalu meminta agar hidupnya dipermudah, tetapi tidak pernah benar-benar bercerita tentang betapa lelahnya dirinya.

Malam itu ia tidak sedang meminta kekayaan. Tidak meminta hidup mewah. Tidak juga meminta semua masalahnya hilang seketika.

Ia hanya sedang merayu Tuhan agar tidak meninggalkannya sendirian.

“Tolong peluk aku lewat caramu,” bisiknya lirih. “Karena aku sudah terlalu lelah berpura-pura baik-baik saja.”


Di luar sana, angin malam masih berembus pelan. Langit tetap gelap. Tidak ada suara ajaib. Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba datang mengetuk pintu. Namun entah mengapa, setelah semua tangis itu keluar, dadanya terasa sedikit lebih lega. Seolah Tuhan memang sedang mendengarkan.


Raka lalu mulai bercerita banyak hal. Tentang kecewa yang ia simpan sendiri. Tentang doa-doa yang diam-diam mulai membuatnya ragu. Tentang rasa iri melihat hidup orang lain yang tampak lebih mudah. Tentang dirinya yang akhir-akhir ini bahkan sulit mengenali siapa dirinya sendiri.

“Aku iri pada mereka yang bisa tidur dengan tenang,” katanya sambil menatap kosong ke arah jendela. “Sedangkan aku, setiap malam harus berdamai dengan pikiranku sendiri.”


Air mata jatuh lagi. Tetapi kali ini tidak terasa seburuk sebelumnya.

Kadang manusia memang hanya ingin didengar. Bahkan oleh Tuhan yang sebenarnya selalu mengetahui segalanya.

Malam semakin larut. Lampu kamar tetap redup. Udara terasa dingin menusuk kulit. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hati Raka tidak lagi seramai biasanya.


Ia sadar satu hal:

Mungkin Tuhan memang tidak selalu langsung mengabulkan semua doa. Tetapi Tuhan sering kali hadir lewat ketenangan kecil yang datang setelah seseorang benar-benar jujur pada luka-lukanya sendiri.

Sebelum memejamkan mata, Raka mengusap wajahnya perlahan.

“Kalau besok masih berat,” bisiknya pelan, “setidaknya jangan biarkan aku kehilangan alasan untuk bertahan.”

Dan malam itu, di antara sunyi yang panjang dan hati yang hampir patah, seorang manusia kembali belajar percaya bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar jauh.

Kadang manusia saja yang terlalu lama memendam tangisnya sendirian.

Bagikan: WhatsApp